Cerita Biaya Kampanye AHY dan Kegagalannya di 2 Pencalonan untuk Posisi Tertinggi

Cerita Biaya Kampanye AHY dan Kegagalannya di 2 Pencalonan untuk Posisi Tertinggi

  29 Jul 2017   , , ,

Usai sudah harapan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi cawapres pada pilpres 2019 mendatang mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang mencalonkan diri sebagai capresnya. Hal itu dikarenakan Prabowo lebih memilih mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno sebagai cawapresnya di pilpres nanti daripada AHY.

Tentu saja dengan kegagalan tersebut membuat Susilo Bambang Yudhoyono atau ayah kandung AHY yang merupakan mantan Presiden RI ke-6 dan sekarang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat kecewa. Betapa tidak, mungkin jika ditotal mungkin sudah puluhan miliar Rupiah yang dikeluarkan untuk dapat mengantarkan AHY ke posisi puncak.

Sebelumnya, AHY juga gagal total saat bersaing dengan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di pilgub DKI Jakarta 2017 kemarin. Padahal pada saat pilgub DKI Jakarta 2017 tersebut, AHY dan Sylviana Murni telah menghabiskan uang sebesar Rp 68,954 miliar sebagai dana kampanye dan lain sebagainya.

Dan pada saat mendekati tahun politik di mana bakal dicari presiden dan wakil presiden baru untuk Indonesia, hanya untuk iklan kampanye saja, ada perkirakan total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 78,7 miliar dalam satu bulan. Hal itu dibuktikan dengan bertebarannya baliho dan billboard AHY di berbagai tempat di Jakarta.

Tercatat ada 39 buah iklan dalam bentuk billboard atau neon, baliho sebanyak 10 buah, 9 buah bando atau JPO, 4 buah MIDI dan terakhir adalah LED sebanyak satu buah. Kesemuanya itu tersebar di 63 titik di daerah Jakarta saja. Padahal di banyak kota atau daerah lain di seluruh Indonesia, juga tersebar banyak iklan-iklan AHY sejenis. Tentunya jumlah Rp 78,7 miliar tersebut pasti membengkak.

AHY 2 kali gagal dalam pencalonan dan mengalami kerugian

Dengan 2 kali gagal dalam pencalonan ini, maka sudah sulit untuk ditaksir berapa kerugian yang harus ditanggung oleh AHY. Ditambah lagi, dia sekarang hanya berstatus sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat yang jenjang karirnya tidak sebagai saat dia masih berada di militer sebelumnya.

Ya, sebelum terjun ke dunia politik, AHY adalah seorang Mayor yang mana karirnya terus naik. Bahkan dia juga sempat menjadi kandidat kuat untuk dapat menjadi pemimpin TNI. AHY sendiri, menurut mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, adalah prajurit yang cerdas dan memilikiprestasi akademik dengan nilai tinggi. Bahkan AHY juga menjadi lulusan terbaik.

Ditambah lagi pada saat itu, kata Gatot, karir AHY akan dapat terus menanjak karena usianya yang masih tergolong muda. Namun sayangnya, demi memenuhi keinginannya menjadi Gubernur DKI Jakarta, AHY harus meninggalkan dunia kemiliterannya dan terjun ke politik.

Saat AHY memutuskan untuk mundur, banyak orang yang menganggap bahwa hal tersebut bukanlah keinginan dari dia sendiri, melainkan hanya lantaran mengikuti atau memenuhi permintaan sang ayah, SBY, yang terkesan sangat berambisi agar anaknya dapat menjadi seperti dirinya dulu.

Sayangnya, semua hal yang telah dirintis dan dibangun AHY gagal dan hancur beserta semua mimpi, ambisi serta cita-citanya karena harus terjun ke dunia politik. Tidak hanya gagal dan hancur saja, semua usaha dan biaya besar yang sudah dikeluarkan seakan tidak menghasilkan apapun.

1 thought on “Cerita Biaya Kampanye AHY dan Kegagalannya di 2 Pencalonan untuk Posisi Tertinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *