Kronologi Pembunuhan Caddy Cantik yang Dibakar Hidu-hidup di Blora

Kronologi Pembunuhan Caddy Cantik yang Dibakar Hidu-hidup di Blora

Akhirnya, kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah di awal bulan Agustus 2018 kemarin semakin mendekati garis finalnya. Baik sang korban ataupun pembunuhnya sudah terkuak dan tinggal menggelar proses peradilannya saja.

Menurut pihak kepolisian, korban yang diketahui bernama Ferin Diah Anjani berusia 21 tahun warga Desa Sendangmulyo, Kecamatan Tembalangan, Semarang, Jawa Tengah yang berprofesi sebagai seorang caddy golf. Kepastian mengenai identitas korban tersebut setelah pihak forensik dari Polda Jawa Tengah melakukan tes DNA dan kemudian dicocokkan dengan pihak keluarga yang mengaku telah kehilangan anggota keluarganya dengan ciri-ciri yang sama.

Dan hanya membutuhkan waktu sekitar 24 jam saja, akhirnya pihak kepolisian sektor Blora berhasil menangkap sang pelaku. Belum diketahui metode dari pihak kepolisian guna melacak dan mendapatkan identitas sekaligus menangkan pelaku yang diketahui bernama Kristiyan Ari Wibowo (31).

Pelaku adalah warga Kecamatan Kunduran, Blora, Jawa Tengah yang pernah bekerja sebagai front office di sebuah hotel di Kota Semarang. Uniknya, beberapa hari sebelum menghabisi nyawa Ferin dengan cara membakarnya tersebut, Ari mengundurkan diri dari pekerjaannya itu pada akhir bulan Juli 2018 kemarin.

Ari mengetahui korban Ferin melalui akun Instagram

Dalam pengakuannya kepada pihak kepolisian, awalnya Ari mengetahui Ferin melalui akun Instagram pribadi korban. Setelah itu, Ari mencoba menghubungi Ferin melalui pesan khusus (Direct Message) dan kemudian komunikasi antara keduanya mulai berlanjut secara intens dan saling bertukar nomor WhatsApp.

Ari juga mengatakan bahwa dia dan Ferin dalam berkomunikasi saling ‘bertukar’ fantasi sampai akhirnya keduanya sepakat untuk bertemu di sebuah hotel di daerah Semarang dengan maksud untuk merealisasikan fantasi tersebut menjadi nyata.

Setelah bertemu di hotel yang disepakati, Ari mengaku sudah berhubungan seksual dengan Ferin sebanyak satu kali. Akan tetapi, keduanya ingin mengulangi perbuatan tak senonoh tersebut dengan cara yang lebih ekstrem, yaitu dengan fantasi layaknya di film-film porno.

Untuk itu, Ari kemudian mengikat tangan dan kaki Ferin dengan tujuan dapat merealisasikan fantasinya itu menggunakan lakban yang memang sudah dia persiapkan sebelumnya. Namun di luar dugaan, justru sang wanita berontak dan mulai berteriak. Tidak ingin ada orang yang mendengarnya, maka Ari langsung membekap Ferin. Karena Ferin terus melakukan perlawanan dan berontak, kesimbangan keduanya goyang dan jatuh. Pada saat jatuh itu, kepala Ferin terbentur lantai yang membuatnya tak sadarkan diri seketika.

Di saat itulah, Ari langsung membekap wajah Ferin dengan menggunakan bantal untuk memastikan korbannya benar-benar tidak sadarkan diri lagi. Usai membekap korban, Ari kemudian melilitkan lakban ke seluruh tubuh, tangan dan kaki.

Dirasa cukup, Ari yang awalnya datang membawa motor matic, kemudian pergi dan kembali lagi ke hotel menggunakan mobil yang disewanya dari rental milik temannya. Mobil tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengangkut Ferin. Di tengah perjalanan, Ari sempat membeli bensin eceran.

Setelah itu, Ari kemudian menuju kawasan hutan yang terletak di Desa Sendang Wates, Kecamatan Kunduran, Blora. DI sanalah Ari memulai aksi kejinya dengan mengguyur tubuh Ferin yang dalam keadaan terbalut lakban dan kemudian dibungkus selimut menggunakan bensin. Dirasa cukup, kemudian Ari membakar Ferin dalam keadaan hidu-hidup. Sadisnya lagi, Ari menunggui api yang berkobar di tubuh Ferin sampai benar-benar mengecil dan kemudian menyiramnya kembali menggunakan bensin sebelum akhirnya meninggalkannya.

Pengakuan Ari melakukan itu karena faktor ekonomi

Takut identitas dan aksinya diketahui, Ari hanya mengambil perhiasan yang dimiliki Ferin saja, sedangkan handphone dan tas milik korban dibuang. Dalam pengakuannya, Ari mengatakan bahwa dia melakukan itu karena faktor ekonomi.

Dan kini Ari hanya dapat merenungi perbuatannya karena menurut pihak kepolisian, hukuman maksimal untuk perbuatan yang dilakukannya adalah mati. Terlebih lagi, Ari juga mengaku pernah melakukan hal yang sama pada tahun 2011 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *